Kamis, 05 September 2019

Warga 3 Dukuh di Kulonprogo Protes Penambangan Pasir di Sungai Progo



KULONPROGO, iNews.id - Ratusan warga dari tiga dukuh di Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kulonprogo menggeruduk balai desa, Senin (2/9/2019).

Mereka menuntut agar penambangan pasir menggunakan mesin sedot di sepanjang aliran Sungai Progo dihentikan karena merugikan masyarakat dan berpotensi menimbulkan bencana.

Massa mendatangi kantor balai desa dengan menggunakan puluhan sepeda motor dan mobil. Sambil kaus berseragam bertuliskan "Warga Banaran Tolak Sedot Pasir Illegal" mereka berorasi menolak aktivitas penambangan pasir.

Koordinator aksi, Agung Budi Prastawa mengatakan, aktivitas penambangan pasir dengan mesin sedot di Sungai Progo sudah berlangsung sejak 2019 lalu.

Warga tidak banyak mendapatkan keuntungan dan cenderung menanggung dampak negatif yang ditimbulkan.

Mulai dari kerusakan jalan, hingga sumur-sumur warga yang mengering hingga mampetnya saluran irigasi. “Sumur warga di dekat lokasi penambangan semuanya kering," katanya
Dampak penambangan juga menjadikan saluran irigasi menjadi mampet. Lahan pertanian kini menjadi kering dan tidak ada pasokan air.

Warga juga resah dengan adanya perubahan arah aliran di DAS Sungai Progo yang bergerak ke arah barat. Dikhawatirkan, ketika nanti ada banjir besar, justru akan menggerus lahan pekarangan. 

"Teknik dengan main sedot akan menimbulkan rongga yang bisa menjadikan lahan akan ambles," ucapnya.

Warga, kata dia, meminta pemerintah desa segera turun tangan menghentikan aktivitas penambangan pasir tersebut. Warga memberikan tenggang waktu satu bulan untuk beritndak. Jika tidak ada respons warga akan menggelar aksi yang lebih besar.

Menanggapi tuntutan warga, Kepala Desa Banaran Haryanta mengaku tidak memiliki kewenangan untuk menghentikan aktivitas penambangan. Yang berhak adalah Balai Besar Wilayah Sungai Serayu dan Opak (BBWSO).

Meski begitu aspirasi dari masyarakat akan diteruskan kepada yang berwenang. “Kami siap mendukung dengan cara yang konstruktif, saya siap dampingi warga ke sana (BBWSO),” kata Haryanta.

Karena itu, dia meminta warga bersatu dan mendukung langkah penolakan mesin sedot, dengan mengumpulkan KTP. Setelah dokumennya lengkap, akan didampingi menyampaikan aspiraai ke BBWSO.

Kades mengaku tidak tahu persis berapa penambang yang menggunakan sistem sedot pasir. Tidak ada penambang yang melaporkan sistem penambangan mereka ke desa. “Kami (desa) hanya mendapatkan tembusan terkait perizinan,” ucapnya.

Harga Material alam Per September 2019

Harga Material alam Per September 2019

a. Pasir Merapi                 : 190,000/m3(1,000,000/rit) pasirjogja.blogspot.com(N)
b. Batu belah    : 190,000/m3(1,000,000/rit) pasirjogja.blogspot.com(N)
c. Urug sirtu : 650.000/rit pasirjogja.blogspot.com(N)
d. Split : 200.000/m3 pasirjogja.blogspot.com(N)
e. Batu bata  AT : 760/pcs jualbatubatamurah.blogspot.com(+)
f.  Batu bata grobogan      : 600/pcs jualbatubatamurah.blogspot.com(N)
g. Bata Jogja : 720/pcs jualbatubatamurah.blogspot.com(N)
h. Bata Ringan AAC         : 720/m3 (10,8) truk kecil bataringanhebeljogja.blogspot.com(+)
i. Bata Ringan AAC  : 680/m3 (47,52)tronton bataringanhebeljogja.blogspot.com(N)
j.  Mortar perekat : 75.000/sak bataringanhebeljogja.blogspot.com(N)
k. Batako                            : 3100/pcs(N)
m. buis beton besar           :73.000/pcs(N)


keterangan
N =Normal
+ =Naik
- = Turun

Harga tersebut franco Sleman utara ,untuk sleman selatan dan kota jogja ada penyesuaian harga

Seorang penambang di lereng Merapi tewas tertimpa longsoran batu



RADAR JOGJA – Kecelakaan tambang manual kembali terjadi di Sleman, Minggu (1/9). Lokasinya berada di aliran Sungai Boyong, Dusun Kalireso, Candibinangun, Pakem. Kejadian ini menewaskan seorang penambang akibat tertimpa longsoran batu besar.
Korban bernama Jumarno, 60, warga asli Temanggung yang sudah lama menetap di Kalireso. Korban ditemukan pertama oleh Samidi sekitar pukul 10.00. Berdasarkan pengakuan saksi yang diterima Kapolsek Pakem Kompol Haryanta,  saat itu saksi hendak mencari pasir.
Sesampai di lokasi, saksi melihat ada longsoran tebing baru. Suasana lokasi tambang juga sepi. Saksi lantas mencari rekannya yang biasa menambang di sana. Tak berselang lama, dia melihat rekannya sudah berada di bawah batu besar yang diperkirakan dari longsoran tebing setinggi empat meter. “Saat ditemukan korban tertimpa batu besar dan hanya terlihat sedikit saja,” ujar Haryanta.
Proses evakuasi memakan waktu cukup lama. Hampir dua jam untuk bisa mengeluarkan korban dari tindihan batu. Sebab, batu yang menimpa korban berukuran besar dan harus dipecah agar korban bisa keluar. “Dua jam kami lakukan evakuasi dengan memecah batu dibantu BPBD, Basarnas, TNI, SAR Linmas. Korban langsung dibawa ke RS Bhayangkara,” jelasnya.
Kapolsek  ini menduga peristiwa itu terjadi sebelum pukul 10.00. Sebab, biasanya para penambang pasir manual berangkat menambang dari pukul 06.00 hingga tengah hari. Hanya saja, saat itu korban menambang hanya seorang diri. Biasanya ada beberapa penambang yang ikut.
Cara menambang, lanjutnya, juga sangat berbahaya. Ini karena para penambang manual menambang di pinggiran tebing. Oleh karenanya, risiko longsor menjadi sangat tinggi. Di sepanjang aliran Sungai Boyong  selain di lokasi laka, juga ada penambang pasir dan batu di sisi selatan. “Memang ada (penambang), tapi tidak banyak,” beber Haryata.
Perwira menengah ini mengimbau kepada masyarakat agar tidak menambang pasir secara serampangan. Sebab, pada beberapa sisi tebing ada bekas longsoran. Bekas itu masih nampak pada tebing sisi timur. Pada tebing itu kontur tanah banyak yang labil. “Tanahnya udah gembur. Tebing itu sudah bahaya,” tegasnya.
Ke depan, lanjutnya, Polsek akan mengintensifkan patroli di lokasi tambang. Selain itu juga akan ada pelarangan penambang di daerah tersebut. “Ini berbahaya, jadi nanti akan kami larang,” tandasnya.
Dari pantauan Radar Jogja, baik tebing sisi kiri maupun kanan semua telah ditambang. Cara menambang juga terkesan serampangan. Para penambang mengeruk bagian bawah tebing untuk mendapatkan pasir. Bekas galian itu membuat semacam gua di bagian bawah tebing. Di dalamnya terisi air serta ada aliran air yang jika aliran air itu deras, bukan tidak mungkin ada longsor susulan.
Kejadian kecelakaan tambang di Sungai Boyong ternyata bukan kali ini terjadi. Menurut keterangan warga sekitar yang namanya enggan dikorankan, sebelumnya juga pernah terjadi kejadian serupa. “Dulu pernah ada, tapi sudah lama, kalau kejadian ini kali kedua,” ujarnya.
Dia juga menuturkan, para penambang di daerah tersebut kebanyakan warga dari luar daerah. Semuanya menambang dengan alat sederhana. “Kalau warga sini tidak ada yang mau menambang,”  bebernya. (har/laz)

Penambang di Lereng Merapi Tewas Tertimpa Batu


Sleman: Seorang penambang manual di aliran Sungai Boyong, lereng Gunung Merapi, Dusun Kalireso, Desa Candibinangun, Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tewas akibat tertimpa longsoran batu besar, Minggu, 1 September 2019. Korban bernama Jumarno, 60, warga asli Temanggung, yang lama menetap di Kalireso, Candibinangun.
 
"Korban pertama kali, ditemukan Samidi sekitar pukul 10.00 WIB," kata Kapolsek Pakem Kompol Haryanta, melansir Antara.
 
Dia menerangkan dari penuturan saksi saat itu sedang mencari pasir di lokasi longsor. Namun ketika di lokasi saksi melihat ada longsoran tebing baru. Tidak berselang lama, saksi melihat rekannya sudah berada di bawah batu besar yang diduga berasal dari longsoran tebing setinggi empat meter.


"Saat ditemukan, korban dalam kondisi tertimpa batu besar dan hanya terlihat sedikit saja," ucapnya.
 
Ia mengatakan proses evakuasi memakan waktu dua jam untuk mengeluarkan korban. Karena batu yang menimpa korban berukuran besar dan harus dipecah.
 
"Selama dua jam kami melakukan evakuasi dengan memecah batu dibantu BPBD, Basarnas, TNI, SAR Linmas. Korban yang sudah meninggal dunia kemudian kami bawa ke RS Bhayangkara," tuturnya.
 
Haryanta menduga longsor terjadi sebelum pukul 10.00 WIB. Para penambang pasir manual biasanya berangkat menambang pukul 06.00 WIB hingga tengah hari.
 
"Hanya saja, saat itu korban saat menambang seorang diri. Padahal biasanya ada beberapa penambang yang ikut," ujarnya.
 
Ia menuturkan cara menambang manual yang dilakukan juga sangat berbahaya. Para penambang manual menambang di pinggiran tebing sehingga risiko longsor menjadi sangat tinggi.
 
"Di sepanjang aliran Sungai Boyong ini selain di lokasi laka, juga ada penambang pasir dan batu di sisi selatan," ungkapnya.
 
Haryanta menegaskan bakal melarang penambangan manual, lantaran kontur tanag labil dan sudah gembur. Selain itu di beberapa sisi tebing terdapat bekas longsoran.
 
"Bekas itu masih nampak pada tebing sisi timur. Pada tebing tersebut kontur tanah didominasi oleh tanah yang labil. Tanahnya sudah gembur. Tebing itu sudah bahaya," jelasnya.


Kamis, 15 Agustus 2019

Harga Pasir di Jogja Diputuskan Naik

Harianjogja.com, SLEMAN--Harga tambang pasir galian C per rit mulai tahun ini mengalami kenaikan. Kenaikan harga tersebut didasarkan pada Keputusan Gubernur DIY No.11/KEP/2018 yang berlaku efektif per 1 Februari tahun ini.
Kenaikan harga pasir tersebut sempat dipertanyakan puluhan sopir truk pengangkut galian C di wilayah lereng Merapi. Jumat (2/2/2018) subuh, puluhan sopir truk menggelar aksi dengan memarkir truk di sepanjang jalan Dusun Batur, Kepuharjo, Cangkringan menuju Kali Gendol. "Ada sekitar 25 truk yang diparkir," kata Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto, Jumat (2/2/2018).
Selain mempertanyakan kenaikan harga, para sopir juga meminta agar ada kesamaan harga antara yang dinaikan oleh perusahaan dengan yang ditambang oleh warga. Sebab menurut mereka, harga masing-masing berbeda. Di dusun Jambu satu rit pasir dihargai Rp750.000 per rit sementara di lokasi lain Rp700.000 per rit.
Pemdes, kata Heri, menfasilitasi pertemuan dengan para sopir truk karena dinilai ada kesalahpahaman. Menurut Heri,  kenaikan harga pasir galian C sudah ditetapkan oleh Gubernur DIY. "Sesuai Kepgub No.11/KEP/2018 di mana aturan tersebut berlaku per 1 Februari 2018. Setelah saya beri pemahaman, kalau ini bukan aturan Perdes baru mereka memahami," kata Heri.
Berdasarkan aturan baru tersebut, lanjut dia, harga satu rit pasir naik dari sebelumnya Rp750.000 (plus pajak) menjadi Rp800.000 (plus pajak). "Kenaikan pajaknya sekitar Rp70.000. Itu masih kalah jauh dibandingkan kenaikan di Klaten Rp125.000," jelasnya.
Ketua Koperasi Penambangan Pasir Petruk, Sutopo mengakui adanya kenaikan harga pasir tersebut. Pihaknya tidak mempermasahkan kenaikan tarif sesuai ketentuan Keputusan Gubernur itu. Toh, sebagian dari pajak yang dibayarkan juga untuk memperbaiki jalan yang rusak. "Ketentuan baru itu tidak memberatkan. Kenaikan hanya Rp50.000 selain untuk kenaikan pajak sisanya di alokasikan untuk perawatan jalan. Ini sudah disepakati dengan para sopir truk," ujarnya.

Batu Split, Jenis Ukuran dan Fungsinya





Batu split adalah salah satu jenis batu matreal bangunan yang diperoleh dengan cara membelah atau memecah batu yang berukuran besar menjadi ukuran kecil-kecil. Batu Split juga sering disebut dengan nama batu belah, karena disesuaikan dengan proses mendapatkannya yaitu dengan cara membelah batu.
Secara umum fungsi utama batu split adalan sebagai bahan campuran utama untuk pembuatan beton cor. Selaian batu split, bahan pembuatan beton cor adalah pasir dan semen. Proses pembuatan beton cor ini adalah dengan mencampur batu split, pasir dan semen dengan menggunakan media air. Setelah tercampur maka adonan ini dicetak sesuai dengan peruntukannya. Namun demikian setelah melihat jenis ukuran batu split, ternyata fungsinya tidak hanya sebagai bahan campuran beton cor saja tetapi juga berfungsi untuk keperluan yang lain.
Untuk mendapatkan batu split, bongkahan batu yang diperoleh dari hasil penambangan akan dibelah dengan mensin penghancur (crusher machine). Bongkahan batu yang dihancurkan tersebut akan menghasilkan batu split berbagai macam ukuran. Batu yang sudah dihancurkan (crushed) tersebut kemudian akan dikelompokkan dan disortir berdasarkan ukurannya.
Berikut kami sampaikan jenis ukuran Batu split dan fungsinya. Jenis-jenis ukuran batu split yang umum diperjualbelikan di pasaran :
  1. Batu Split Ukuran 0 – 5 mm (mili meter). Jenis ini sering disebut juga dengan istilah Abu Batu. Ukuran ini merupakan jenis ukuran yang paling lembut, ukuran partikelnya menyerupai pasir lembut. Batu split jenis ukuran ini banyak dibutuhkan untuk campuran dalam proses pengaspalan atau dapat digunakan sebagai pengganti pasir. Material batu split ukuran ini merupakan bahan utama untuk pembuatan gorong-gorong dan batako press.
  2. Batu Split Ukuran 5 – 10 mm (mili meter) atau disebut juga dengan batu split ukuran 3/8 cm (centi meter). Material batu split jenis ini banyak digunakan untuk campuran dalam proses pengaspalan jalan, mulai dari jalan yang ringan sampai jalan kelas 1. Batu splitjenis ukuran ini akan dicampur dengan aspal menjadi Aspal Mixed Plant atau secara umum disebut dengan aspal hot mixed.
  3. Batu Split Ukuran 10 – 20 mm (mili meter). Material batu split jenis ini banyak digunakan untuk bahan  pengecoran segala macam konstruksi, mulai dari konstuksi ringan sampai konstruksi berat. Bangunan-bangunan yang menggunakan beton cor dari bahan batu split ukuran ini antara lain Jalan Tol, Gedung bertingkat, Landasan Pesawat Udara, Bantalan Kereta Api, Pelabuhan dan Dermaga, Tiang Pancang dan Jembatan dan sebagainya.
  4. Batu Split Ukuran 20 – 30 mm (mili meter). Material batu split jenis ini banyak digunakan untuk bahan pengecoran lantai dan pengecoran atau pembetonan horizontal yang lain.
  5. Batu Split Ukuran 30 – 50 mm (mili meter). Material batu split jenis ini biasanya digunakan untuk dasar badan jalan sebelum menggunakan material yang lain, penyangga bantalan kereta api, penutup atau pemberat pipa didasar laut, beton cor pemecah ombak dan lain-lain.
  6. Batu Split Jenis Agregat A. Matreal batu split ini termasuk dalam jenis sirtuBatu split jenis Agregat A ini merupakan campuran antara beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya terdiri dari abu batu, pasir, batu split ukuran 10-20 mm, batu split ukuran 20-30 mm dan batu split ukuran 30-50 mm. Pencampuran bahan ini tidak ada pedoman komposisi yang pasti atau baku dari masing-masing bahan. Komposisi disesuaikan dengan jenis penggunaannya. Batu split jenis Agregat A ini pada umumnya digunakan sebagai bahan pengecoran dinding, pembuatan dinding dan campuran bahan beton cor.
  7. Batu Split Jenis Agregat B. Matreal batu split ini termasuk dalam jenis sirtuBatu split jenis Agregat B ini merupakan campuran antara beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya terdiri dari tanah, abu batu, pasir, batu split ukuran 10-20 mm, batu split ukuran 20-30 mm dan batu split ukuran 30-50 mm. Bahan Tanah merupakan pembeda komposisi dengan batu split jenis Agregat A. Pencampuran bahan ini tidak ada pedoman komposisi yang pasti atau baku dari masing-masing bahan. Komposisi disesuaikan dengan jenis penggunaannya. Batu split jenis Agregat B ini pada umumnya digunakan untuk bahan timbunan awal pengerasan jalan dengan tujuan untuk meratakan dan mengikat lapisan batu split yang digelar pada lapisan di atasnya.
  8. Batu Split Jenis Agregat C. Campuran matreal batu split ini sering disebut batu asalanBatu split jenis Agregat C ini merupakan campuran antara beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya terdiri dari tanah, abu batu, pasir, batu split apa saja dan dengan komposisi yang tidak beraturan. Batu split jenis Agregat C ini pada umumnya digunakan untuk bahan timbunan untuk pengurukan lahan, reklamasi dan lain-lain.
  9. Batu Gajah. Batu jenis inisering disebut dengan boulder elephant stoneBatu gajah merupakan salah satu jenis batu split yang mempunyai ikuran paling besar dibandingkan dengan jenis batu split yang lain. Batu gajah berfungsi untuk menimbun lahan atau lokasi yang berdekatan dengan pantai. Batu gajah ini biasanya digunakan untuk membuat bahan beton pemecah ombak, bahan reklamasi pantai, bahan untuk membuat dermaga kecil atau yang paling umum digunakan untuk bahan pondasi bangunan.





Sabtu, 03 Agustus 2019

Warga Tuntut Izin Penambangan Pasir di Kulon Progo Dicabut

Warga Dusun Jati, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD DIY, Rabu (12/9), terkait penambangan pasir yang dilakukan di wilayah mereka. Aksi tersebut menuntut agar izin penambangan yang dikeluarkan untuk menambang di wilayah mereka dicabut.Empat perusahaan tambang pasir sungai Progo yang beroperasi di wilayah mereka telah merusak lingkungan. Alat-alat berat yang digunakan oleh empat perusahaan tambang pasir tersebut telah 'membabi buta' melakukan pengerukan. Akibatnya, terjadi kerusakan lingkungan yang berdampak terhadap mengeringnya sumur-sumur milik warga.Koordinator Umum Aksi, Thomas Nur Ana Edi Dharma, mengatakan awalnya penambangan pasir tersebut memang telah mengantongi izin. Namun prakteknya, alat-alat berat tersebut telah melampaui batas izin yang diperkenankan. Bahkan, penambangan pasir tersebut telah merambah wilayah Dusun Jati, Desa Banaran Kecamatan Galur."Padahal izinnya, Jati itu tidak boleh diambil pasirnya," tuturnya, Rabu (12/9). Thomas menuturkan, sejak penambangan pasir menggunakan alat berat masif dilaksanakan oleh empat perusahaan tersebut, kualitas lingkungan di wilayah mereka mengalami penurunan cukup drastis. Terlebih pada musim kemarau seperti sekarang ini di mana warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Tak hanya itu, abrasi juga terjadi di kawasan dusun mereka.Selain itu, kata dia, tanah-tanah milik warga pun perlahan-lahan menyusut luasannya. Bahkan ada tanah yang bersertifikat mulai hilang karena abrasi yang terjadi. Dari sisi ekonomi, tentu hal ini sangat merugikan warga yang berada di sekitar lokasi penambangan."Belum lagi jalan-jalan yang dilalui oleh truk-truk pengangkut pasir mengalami kerusakan yang cukup parah," tambahnya.Kondisi sawah di sekitar lokasi penambangan pun tak jauh berbeda karena kesuburannya terus mengalami penurunan. Sebagian besar lahan pertanian di seputaran lokasi penambangan tak bisa lagi ditanami.Warga menyesalkan belum ada tindakan dari aparat yang berkepentingan terkait dengan keluhan mereka. Bahkan, sejak 23 Agustus 2018 yang lalu pihaknya juga sudah melayangkan surat ke DPRD DIY untuk melakukan audiensi. Namun sayangnya hingga saat ini belum ada tanggapan sama sekali."Karena sudah jengah, maka kami turun ke jalan untuk menuntut izin penambangan pasir tersebut dicabut," tegasnya. (erl/adn)